Sejuta Dolar

Aku tertarik dengan tumpukkan buku di bawah meja komputer temanku. Sebut saja Romen namanya. Kami masing-masing bertanggung jawab atas sebuah komputer yang terdapat di lab kami. Di bawah meja komputerku kosong. Hanya terdapat sebuah hardisk eksternal dan kabelnya yang menancap ke komputer. Beberapa hari lalu, temanku membawa begitu banyak buku di tasnya. Mungkin semua buku yang ia miliki di rumahnya dia bawa ke sini hingga tak bersisa. Ia keluarkan satu-satu. Ia tata di bawah kolong meja komputernya. Barang kali ada sekitar lima belas buku. Seperti biasa ada buku kuliah ada ada juga buku motivasi dan bisnis. Setelah bukunya tertata, aku coba melihat buku-buku yang ia bawa.

Aku tertarik dengan sebuah buku. Judulnya “Mimpi  Sejuta Dolar”. Aku ambil buku itu dari tempatnya yang terselip rapi di deretannya. Aku lihat sampulnya. Aku membayangkan jika buku ini adalah sebuah novel. Karena ilustrasi sampulnya seperti sebuah buku cerita atau juga novel. Aku mulai membuka halaman pertama. Dan berlanjut ke halaman berikutnya.

Oh, ternyata ini buku tentang perjalanan “Merry Riana” hingga mencapai sukses. Mulai dari awal cerita aku sudah tertarik untuk mengetahui bagaimana perjalanan dari Merry Riana itu sendiri. Berawal ketika ia mulai berangkat ke Singapura. Meninggalkan keluarganya di Indonesia karena suatu masalah yang melanda Indonesia saat itu. Ya, krisis moneter yang melanda Indonesia tahun 1998 membuatnya harus melanjutkan kuliah di luar Indonesia. Jauh dari orang tua, yang saat itu usianya baru menginjak 18 tahun. Dan NTU menjadi pilihannya. Walaupun dengan keterbatasan ekonomi ia tetap berusaha bertahan. Ya, bertahan. Ia hanya memiliki dua pilihan saat itu. Tetap bertahan, dan mengikuti kuliah dengan segala keterbatasan yang ada. Atau kembali ke Indonesia, kembali dan menyerah pada keadaan.

Aku lanjut membuka halaman berikutnya. Sampai aku membuat tulisan ini, aku baru membaca sampai halaman 135. Namun karena keinginanku untuk menulis tentang hal ini, ya aku sampaikan saja. Walaupun belum selesai membaca, aku sudah tersihir oleh sekelumit cerita Merry Riana ketika memulai kuliah. Aku yang saat ini sebagai mahasiswa merasa bahwa perjuanganku masih belum apa-apa. Masih banyak hal yang harus aku cicipi selama masa kuliah. Tentunya untuk mengembangkan diriku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s